Blog

Awas, Waspada Terhadap Perilaku Doxing!

Uncategorized

Awas, Waspada Terhadap Perilaku Doxing!

Mungkin teman-teman sudah tidak asing lagi dengan istilah doxing ini. Beberapa waktu
terakhir, banyak sekali kasus soal doxing yang mulai diangkat dan ramai menjadi
perbincangan publik. Salah satunya adalah kasus serangan doxing terhadap jurnalis cek fakta
liputan6.com. Perkembangan kasusnya saat ini sudah sampai pada tahap pelaporan kepada
pihak kepolisian. Pasalnya hal tersebut dianggap sangat merugikan dan mengganggu privasi
korban dan keluarganya. Dikarenakan data-data pribadi korban di sejumlah akun medsos,
diambil tanpa izin, diubah menjadi animasi yang bertujuan untuk mendiskreditkan korban.
Sebelum kita bahas lebih jauh tentang jerat hukum para pelaku doxing, yuk kita pahami lebih
jelas tentang seluk beluk doxing. Jangan-jangan kita pernah melakukannya. Ups!
Seiring dengan semakin pesatnya era teknologi informasi di masa sekarang ini, melahirkan
banyak jejaring sosial yang digunakan untuk saling berinteraksi. Hal itu juga mempermudah
bagi kita untuk mencari informasi yang dibutuhkan. Cukup dengan perangkat pendukung,
jaringan internet dan sedikit upaya untuk melakukan pencarian tentu akan sangat mudah
mendapatkan informasi yang kita cari tentu mudah didapat. Seiring dengan percepatannya,
hal itu tidak hanya membuat privasi kehidupan kita sedikit demi sedikit mulai terganggu. Ada
banyak kemungkinan orang lain bisa mengakses data pribadi kita entah melalui medsos dan
jaringan lainnya, untuk digunakan sebagai hal-hal yang tidak bertanggungjawab.

Era internet
membuat informasi seseorang dapat dengan mudah dibuka di dunia maya. Salah satu
kejahatan dunia maya yang sering terjadi dan tanpa kita sadari adalah doxing.
Doxing merupakan sebuah aktivitas melalui internet untuk meneliti dan
menyebarluaskan informasi pribadi ke publik terhadap seseorang individu atau
organisasi. Informasi yang dikerjakan dapat mencakup nama lengkap seseorang, alamat
email, alamat, nomor telepon, gambar, dan detail pribadi lainnya. Ini biasanya
menyebabkan identitas anonim bisa terungkap. Komnas HAM sendiri menyebut bahwa
doxing merupakan salah satu bentuk pelanggaran Hak Asasi Manusia di ranah digital.
Ketentuan mengenai doxing di Indonesia salah satunya diatur dalam Undang-undang
Informasi dan Transaksi Elektronika (ITE) nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan UU No
11 tahun 2008. Apa saja sih aturan dan sanksi yang mengatur seputar doxing? Yuk simak
runtutan Undang-Undangnya berikut ini ya!
Pasal 26
(1) Kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan, penggunaan setiap informasi
melalui media elektronik yang menyangkut data pribadi
seseorang harus dilakukan atas persetujuan Orang yang bersangkutan.
(2) Setiap Orang yang dilanggar haknya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
mengajukan gugatan atas kerugian yang ditimbulkan berdasarkan Undang-Undang ini.
(3) Setiap Penyelenggara Sistem Elektronik wajib menghapus Informasi Elektronik dan/atau
Dokumen Elektronik yang tidak relevan yang berada di bawah kendalinya atas permintaan
Orang yang bersangkutan berdasarkan penetapan pengadilan.

(4) Setiap Penyelenggara Sistem Elektronik wajib menyediakan mekanisme penghapusan
Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang sudah tidak relevan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(5) Ketentuan mengenai tata cara penghapusan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen
Elektronik sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4) diatur dalam peraturan
pemerintah.
Terkait dengan perilaku doxing ini, ada sederet sanksi yang mengancam para pelaku doxing.
Selain sanksi pidana, ada pula yang berupa denda.Berikut kutipan pasal-pasal terkait sanksi
yang berkaitan dengan penyebaran informasi pribadi:
Pasal 45
(3) Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau
mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau
Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 4
(empat) tahun dan/atau denda paling banyak Rp750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta
rupiah).
(4) Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau
mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau
Dokumen Elektronik yang memiliki muatan pemerasan dan/atau pengancaman sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 27 ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam)
tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
Pasal 45A
(2) Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan
untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat
tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam)
tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
Pasal 45B
Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak mengirimkan Informasi Elektronik dan/atau
Dokumen Elektronik yang berisi ancaman kekerasan atau
menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29
dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling banyak
Rp 750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah).
Sekedar untuk pengetahuan dan informasi, doxing ini bukan sebuah perilaku yang baru ya. Di
luar negeri, hal ini sudah terjadi beberapa tahun lalu. Sejarah mencatat, ada lima kasus doxing
paling viral yang pernah terjadi di dunia. Liputan6.com melalui
https://www.liputan6.com/news/read/4359426/infografis-5-kasus-doxing-paling-viral-di-
dunia merilis sebuah infografis untuk mendukung kasus doxing yang dialami oleh
reporternya. Berikut ulasan lima kasus doxing yang sempat menggegerkan dunia. Simak yuk!

Yang pertama adalah kasus pembunuhan penyedia jasa aborsi. Pada tahun 1990-an, para
aktivis anti-aborsi mengunggah informasi para penyedia jasa aborsi. Informasi yang diunggah
berupa nomor telepon, alamat rumah, foto dan memasangnya sebagai target pembunuhan.
Karena hal tersebut dalam kurun tahun 1993-2016 sebanyak 8 penyedia aborsi dibunuh oleh
aktivis anti aborsi.
Kasus yang kedua adalah Boston Marathon. Pada kasus bom marathon pada tahun 2013 di
Boston, seorang pria bernama Sunil Tipathi dicurigai sebagai pelaku pemboman. Informasi
Sunil dan keluarganya kemudian disebar di dunia maya. Namun sayangnya, kecurigaan itu
tidak terbukti. Karena pelaku pemboman itu adalah Dzhokhar Tsarnaev dan Tamerlan
Tsarnaev.
Lau Dobbs merupakan kasus yang ketiga. Pada 2016, wartawan Fox Business, Lau Dobbs,
mengunggah informasi alamat dan nomor telepon Jessica Leeds, salah satu wanita yang
menuduh kandidat presiden Amerika, saat itu Donald Trump, melakukan pelecehan seksual.
Dobbs kemudian meminta maaf atas tindakannya.
Yang keempat adalah kasus email Erdogan. Pada Juli 2016, WikiLeaks merilis 300ribu email
yang disebut email Erdogan, yang diduga untuk merusak reputasi Presiden turki, Recep
Tayyip Erdogan. Blogger Michael best kemudian mengunggah data informasi warga turki
dari email tersebut, termasuk alamat dan nomor telepon daftar pemilih wanita di 79 dari 81
provinsi di Turki.
Kasus kelima, terjadi pada tahun 2016 lalu. Seorang editor dari Politico, Michael Hirsh,
mengundurkan diri setelah mempublikasikan alamat tokoh Gerakan supremasi kulit putih
Amerika Serikat, Richard B Spencer, di facebook.
Wah, serem serem ya kasus-kasusnya. Tidak hanya merugikan diri sendiri tapi juga
merugikan banyak orang. Bisa dibayangkan kan jika data-data kita sebagai warga negara
terpublikasi ke public. Tentu akan sangat mengganggu privasi.
Mungkin kamu pernah menyebar foto orang tanpa izin, cuma karena ia melakukan hal yang
salah dan menurut kamu ia pantas dihakimi. Tapi yang harus ditekankan di sini adalah, walau
kita marah, doxing bukanlah tindakan baik. Harus diakui, doxing sendiri adalah sikap main
hakim sendiri. Ia menetapkan seseorang bersalah dan menghukum tanpa melalui proses
hukum yang berlaku. Mengumbar data pribadinya dengan melacak identitas seseorang dari
dunia maya (internet) yang bertujuan untuk menyerang, mencari kelemahan seseorang di
dunia nyata atau maksud negatif lainnya. Apalagi di situasi dan kondisi di Indonesia yang
sekarang ini ya. Kita harus lebih bijak lagi dalah berperilaku baik di dunia nyata maupun
dunia maya. Ingat, ancaman hukuman buat para pelaku doxing gak main-main ya.
Semakin maju era internet, banyak media sosial, tapi juga harus tetap hati-hati ya teman-
teman. Main media sosial memang gratis dan mudah, tetapi bukan berarti kita bisa
berperilaku sembarangan. Sebelum klik share dan posting, ada baiknya kita pertimbangkan
terlebih dahulu apakah yang akan kita bagikan ini bermanfaat atau malah bisa menjadi
boomerang bagi diri kita sendiri dan berakibat fatal bagi kehidupan pribadi orang lain. Yuk,
lebih bijak lagi dalam menggunakan medsos. Filter ada di ujung jarimu.
Semoga bermanfaat ya teman-teman…

Leave your thought here

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Wishlist 0
Open wishlist page Continue shopping