Blog

Sengketa Waris untuk Suami, Apa Hukumnya?

cover-waris-artikel
Hukum waris

Sengketa Waris untuk Suami, Apa Hukumnya?

Kamu masih inget kasus di awal tahun 2020 yang sempat viral? Yap, salah satunya kematian Lina Jubaedah, yang dikenal sebagai ibunda dari Rizky Fabian atau mantan istri Sule. Ternyata yang bikin heboh bukan karena berita kematiannya. Tapi, setelah almarhum dimakamkan terjadi sengketa waris antara anak-anak dengan suami kedua almarhum. Nah, kenapa bisa terjadi ya? IDLC akan sedikit menjelaskan permasalahannya untuk kamu.

Kalian tentu sudah tau kan ketika Sule dan almarhum menikah, mereka memiliki 4 orang anak. Kemudian, setelah mereka bercerai, Lina menikah lagi dengan laki-laki lain yaitu Teddy. Dari pernikahannya tersebut, Lina juga dikarunia seorang anak. Pertanyaannya, siapa saja sih yang berhak dari harta yang dimiliki Lina semasa hidupnya? Sebenernya, kalo suami kedua itu berhak gak sih atas harta yang dibawa Istrinya ke dalam perkawinannya tersebut?

Jadi, sebelum membahas masalah warisan, sebenarnya yang harus dilihat apakah masalah pembagian harta gono gini dengan Sule udah dibagi atau belum. Jika ternyata sudah dibagi, maka kita akan beralih ke KUHPerdata pasal 832, dengan bunyi sebagai berikut, “Menurut undang-undang, yang berhak menjadi ahli waris ialah keluarga sedarah, baik yang sah menurut undang-undang maupun yang di luar perkawinan, dan suami atau isteri yang hidup terlama, menurut peraturan-peraturan berikut ini.

Bila keluarga sedarah dan suami atau isteri yang hidup terlama tidak ada, maka semua harta peninggalan menjadi milik negara, yang wajib melunasi utang-utang orang yang meninggal tersebut, sejauh harga harta peninggalan mencukupi untuk itu.”

Baca juga : “I Can Speak” : Meminta Keadilan Untuk Didengar

Jelas bukan, bila yang menjadi ahli waris adalah anak-anak. Selain itu, KUHPerdata tersebut menyebutkan bila hak istri kedua (suami kedua) itu nggak boleh lebih besar dari hak kandung dari suami atau istri pertama. 

Nah ada juga nih guys, berdasarkan ketentuan Pasal 96 ayat (1) KHI, disebutkan, “apabila terjadi cerai mati, maka separuh harta bersama menjadi hak pasangan yang hidup lebih lama.” Ini artinya jika harta bersama dari pasangan yang meninggal dunia ditambah dengan harta bawaannya merupakan harta warisan yang harus dibagikan kepada para ahli warisnya. Kalau yang meninggal dunia itu istri, maka suami berhak juga mendapat bagian dari istrinya apabila istri nggak mempunyai anak.

Tapi, dilihat dari kasus ini Lina memiliki 5 orang anak yang menjadi pemegang hak atas warisan tersebut. Tentunya, suami kedua Lina bisa mendapatkan warisan juga. Tapi gak sebesar pemegang hak waris lainnya. Jadi Guys, sekarang kalian udah gak bingung lagi kan masalah warisan ini?

Jangan lupa dengarkan juga Podcast kita di Spotify “NGOPI HUKUM” ya…

Leave your thought here

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Wishlist 0
Open wishlist page Continue shopping