Blog

“Rakyat Jawa Timur Dalam Revolusi Indonesia (1945-1949)”

diskusi-sejarah
history / sejarah

“Rakyat Jawa Timur Dalam Revolusi Indonesia (1945-1949)”

Bangsa Eropa datang ke tanah air atas nama niaga. Ia berlindung di balik slogan Gold, Glory, Gospel. Mereka menempatkan kita sebagai bangsa terbelakang yang harus dituntun sesuai arah peradaban, seperti yang mereka inginkan. Dari mula-mula kedatangannya, mereka sudah memiliki niat yang salah.

Begitu VOC tiba di Jawa, Belanda mulai mengganggu sistem hukum yang ada. Kelak di kemudian hari, mereka membagi sistem peradilan berdasarkan kelas. Ada pengadilan untuk orang Eropa, dan ada pengadilan lain untuk penduduk yang didominasi orang Jawa dan Cina. Dengan turut campur pada sistem hukum di sebuah wilayah, mereka sudah melangkah terlalu jauh.

Bagaimana mungkin terjadi sebuah kerja sama di bidang perdagangan bila mereka datang dengan membawa mesiu, hingga mendirikan benteng. Bagaimana bisa disebut kerja sama bila sedari mula sudah tidak adil dan tidak saling menguntungkan? Kita tak lagi menjadi bangsa terhormat, tak lagi menjadi Tuan di negeri sendiri.

Kita semua sependapat bahwa Republik Indonesia telah menyatakan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Namun Belanda memiliki narasi yang berbeda. Pengakuan Belanda atas kemerdekaan Indonesia baru terjadi pada 27 Desember 1949. Mereka mempromosikannya hingga ke muka dunia. Di masa-masa kritis itulah, 1945-1949, terjadi episode sejarah yang paling runcing antara Indonesia – Belanda. Ia masih belum benar-benar selesai hingga hari ini. Tak benar-benar tuntas. Ketika kita menyajikan realitas historis, Belanda menyanggahnya dengan perdebatan akademis hingga politis. Mereka menjadi sangat sensitif bila ada narasi yang mencoba membuka aksi kekerasan dan kejahatan perang yang pernah mereka lakukan di Indonesia, sebuah negara yang nyata-nyata telah merdeka. Dengan melakukan penyerangan pada sebuah negara yang telah merdeka, mereka sudah salah.

Untuk memahami situasi saat itu, tentu kita harus pula memahami bagaimana keadaan dunia. Paling tidak, kita harus mengerti apa yang terjadi ketika negeri Belanda dinvasi Jerman hingga pada 15 Mei 1940 tentara Belanda menyerah. Berikutnya, di masa-masa Perang Dunia II pihak Belanda lengah dalam mengantisipasi agresivitas Jepang. Ia menyebabkan negara Hindia Belanda akhirnya runtuh pada 1942 dan Belanda tidak lagi berkuasa atas sebuah negeri yang kelak bernama Indonesia. Tentu tak mudah bagi Belanda untuk mengucapkan selamat tinggal pada Indonesia, setelah sekian lama mereka menghisap segala keindahan dan kenyamanan Indonesia.

Dalam sejarah dunia, pernah tercatat terjadinya penggunaan senjata nuklir di masa perang untuk pertama dan terakhir kalinya. Ia dilakukan oleh Amerika Serikat pada Jepang pada Agustus 1945 untuk menyudahi Perang Dunia II. Rupanya serangan bom atom terhadap kota Hiroshima dan Nagasaki tersebut memiliki pengaruh yang tak sedikit pada berbagai bangsa, termasuk Indonesia. Saat itu, ketika terjadi kekosongan pemerintahan, kita jadi punya satu-satunya kesempatan untuk menyatakan kemerdekaan.

Setelah memproklamirkan kemerdekaannya, kita tentu tidak sedang dan tidak pernah menunggu negara Belanda untuk datang lagi. Tetapi kenyataan berkata lain. Dengan cara-cara yang culas, tentara Belanda datang ke Indonesia. Pemerintah Belanda saat itu memiliki anggapan bahwa kemerdekaan Indonesia hanyalah karya pasukan pendudukan Jepang. Di mata Belanda, Indonesia masih menjadi bagian dari miliknya yang sempat hilang dalam genggaman, sebuah wilayah besar yang sedang carut marut dan butuh ditertibkan. Di sepanjang periode revolusi tersebut, Belanda selalu berlindung di balik kata ‘ketertiban.’ Yang sebenarnya terjadi adalah ego kolonial. Juga, kenyataan pahit bahwa kala itu Belanda dalam keadaan ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja. Tanpa memiliki kembali Indonesia, atau Hindia Belanda mereka menyebutnya, perekonomian Belanda mustahil untuk bangkit dalam waktu singkat.

Selain Sumatera, tentu mereka mengincar Jawa sebagai skala prioritas. Ia kaya akan hasil bumi. Dari titik ini, kita tentu akan menyadari betapa molek dan menggiurkannya Jawa Timur di mata Eropa.  Di Jawa Timur, telah ada titik-titik hasil bumi beserta alat produksinya yang siap dijalankan untuk kebutuhan ekspor. Jawa Timur juga sudah memiliki jalur transportasi untuk kebutuhan ekspor. Maka harus segera direbut demi menyelamatkan roda ekonomi Belanda.

Perang yang paling berdarah justru terjadi di era 1945 – 1949, dimana jutaan nyawa rakyat Indonesia melayang. Berbagai peristiwa penting heroik banyak terjadi di Jawa Timur dalam kurun tahun 1945-1949. Mulai dari dahsyatnya Perang Surabaya, Peristiwa Perobekan Bendera, Hijrah TNI, Agresi Militer Belanda I dan masih banyak titik pertempuran berdarah lainnya. Untuk itu, jika berbicara tentang kemerdekaan, tentunya tidak lepas dari perjuangan semesta dari Rakyat Jawa Timur dalam revolusi kemerdekaan Indonesia di kurun waktu 1945-1949.

Ini hanya sebuah pengantar, untuk lebih jelasnya, tentang bagaimana bangsa Indonesia menghadapi ketidakadilan yang tampak di depan mata, melewati perjanjian demi perjanjian, situasi penjajahan yang buruk, apa dan bagaimana perjuangan rakyat Jawa Timur di masa revolusi, mari kita berbincang melalui zoom, pada tanggal 21 Agustus 2021, dimulai pukul 15.30-17.30 WIB. Ia adalah webinar sejarah bertema Rakyat Jawa Timur dalam Revolusi (1945-1949). Menghadirkan narasumber Hendi Jo, seorang jurnalis sejarah di Historia; Ady Setiawan, seorang penulis sejarah dan RZ Hakim seorang pemerhati sejarah dari Jember. Acara ini akan dipandu oleh Irma Devita, cucu pejuang Letkol Moch Sroedji.

Acara ini diselenggarakan oleh Irma Devita Learning Centre (IDLC) dalam rangka memperingati ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke-76, di dukung oleh komunitas Roodebrug Soerabaia dan Historika Indonesia. Bila tertarik untuk mengikutinya, silahkan mendaftar pada link berikut https://bit.ly/webinarsejarahIDLC

Leave your thought here

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Wishlist 0
Open wishlist page Continue shopping