Blog

Diskusi Sejarah Jawa Timur dalam Revolusi Kemerdekaan (1945 – 1949)

tiwtter-sejarah
history / sejarah

Diskusi Sejarah Jawa Timur dalam Revolusi Kemerdekaan (1945 – 1949)

Kesadaran sejarah harus dirawat, ditelusuri akar dan jejak-jejaknya, melalui riset hingga verifikasi data. Ia tentu juga butuh ruang dialektika yang sehat. Dalam rangka memperingati hari kemerdekaan RI ke 76 tahun, Irma Devita Learning Center (IDLC) di Jakarta, bekerja sama dengan komunitas Historika Indonesia, Roodebrug Soerabaia, dan Sudut Kalisat, menyelanggarakan sebuah webinar sejarah yang mengusung tema, “Rakyat Jawa Timur Dalam Revolusi Indonesia (1945-1949).” Hadir dalam webinar tersebut, tiga pembicara sebagai pemantik diskusi; RZ Hakim, Ady Setyawan, serta Hendi Jo. Sebagai host adalah Irma Devita, cucu dari Alm. Letkol Moch. Sroedji.

Tampil sebagai pembicara pertama dalam membuka acara, RZ Hakim membicarakan tentang Jawa Timur secara umum di masa-masa yang sulit. Dalam paparannya, RZ Hakim menjelaskan tentang posisi Jawa Timur ketika masih terbagi atas tujuh Residentie atau Karesidenan. Di pemula perbincangan tersebut, juga disuguhkan kenyataan sejarah bahwa Ibukota Propinsi Jawa Timur, Surabaya, merupakan sebuah wilayah yang penting. Lebih luas lagi, pemaparan juga ditekankan pada mengapa Jawa Timur menjadi penting bagi Belanda. Hal tersebut berkaitan dengan mengapa Propinsi Jawa Timur dijadikan simbol perjuangan di masa revolusi mempertahankan kemerdekaan.

Menurut RZ Hakim, di masa Revolusi Mempertahankan Kemerdekaan 1945-1949, banyak peristiwa heroik terjadi di Jawa Timur. Begitu pula yang terjadi di ujung timur Jawa. Beberapa di antaranya adalah peristiwa Hijrah TNI, ketika wilayah Indonesia terbagi atas kantong Republik dan wilayah pendudukan Belanda, sesuai dengan hasil perundingan. Saat itu wilayah Karesidenan Besuki menjadi kosong, tanpa kekuatan TNI. Ketika kelak mereka kembali pulang (Wingate-action), terjadi lebih dari satu pertempuran di sepanjang rute Karesidenan Kediri – Karesidenan Besuki.

Pada pemaparan materi kedua, Ady Setyawan dari Roodebrug Soerabaia, tampil menawan manakala memaparkan kondisi Surabaya, terlebih pada situasi pertempuran Oktober-November 1945. Ia memang banyak melakukan riset terkait rentetan sejarah yang pernah terjadi di Surabaya, juga menuliskan buku Kronik Pertempuran Surabaya. Ady Setyawan terbilang produktif dalam menulis, baik berupa artikel-artikel maupun buku yang berlatar sejarah. Pada sesi pertanyaan, Ady Setyawan banyak menanggapi pertanyaan seputar pertempuran di Surabaya, tewasnya Brigadir Mallaby.

Pemateri ketiga, Hendi Jo, melengkapi pemantik diskusi dengan sempurna. Sebagai jurnalis sejarah dari luar Propinsi Jawa Timur, ia cukup baik menyajikan peristiwa-peristiwa kelam di masa lalu. Hendi Jo bertutur tentang kekejaman Belanda di desa Peniwen, Malang. Tentang kejadian berdarah-darah di Prambon Wetan, kabupaten Tuban. Diceritakan pula sedikit tentang tragedi Gerbong Maut di tahun 1947, juga mengenai Kapten Suwandak di Lumajang.

Dalam acara daring tersebut, ketiga pembicara sama-sama sependapat bahwa apa dan bagaimanapun narasi yang digunakan oleh pihak kolonial Belanda terkait kedatangannya kembali, mereka melangkah di sisi yang salah. Karena setelah menyatakan kemerdekaannya, rakyat Republik Indonesia tidak pernah sekalipun merindukan Belanda untuk datang lagi. Rakyat Indonesia telah merdeka, telah meletakkan pondasi di atas tanah sendiri, dan sedang bersiap-siap membangun sebuah rumah yang besar untuk dihuni bersama secara adil oleh sebanyak-banyak rakyat Indonesia. Pihak Belanda datang (lagi) dengan berbagai alasan. Mereka menyerang sebuah negara yang telah merdeka.

Diingatkan kembali di pemantik diskusi oleh ketiga pembicara, bahwa sedari mula ide dan semangat kemerdekaan yang diusung oleh para leluhur kita adalah ide dan semangat keadilan serta kesetaraan. Adil dalam segala bidang termasuk bidang ekonomi, dan tidak ada lagi eksploitasi manusia atas manusia lainnya. Tidak ada lagi pembagian kelas berdasarkan ras.

Dalam sesi diskusi, pertanyaan dari peserta mengalir deras. Belum lagi ada ruang diskusi antar peserta di kolom chat.

Dalam kolom chat, ada salah satu peserta yang bercerita bahwa di masa tersebut Kakeknya turut melakukan perjuangan di sisi Republik, terkait Peristiwa Madiun pada September 1948. Ia ingin mengerti lebih jauh mengapa peristiwa tersebut dapat terjadi, sedangkan di sisi lain kita sedang ada di situasi perang melawan tentara Belanda.

Menanggapi hal tersebut, menurut RZ Hakim, peristiwa Madiun di bulan September 1948 disebut-sebut sebagai pemicu krisis sosial dan politik dalam negeri paling serius di masa revolusi mempertahankan kemerdekaan 1945-1949. Padahal, kondisi ekonomi dan sosial Indonesia saat itu sedang memburuk, apalagi di Jawa pedalaman, akibat dari Agresi Militer Belanda yang pertama di tahun 1947. Belum lagi, taktik mengulur waktu yang dilakukan oleh Belanda melalui perundingan-perundingan politik hanya melahirkan kekacauan di tubuh Republik Indonesia. Begitu ada ancaman di tubuh bangsa Indonesia sendiri, mau tidak mau kita harus siap mencari jalan keluarnya sesegera mungkin.

Situasi yang benar-benar sulit di era itu disempurnakan oleh keadaan perdagangan Republik Indonesia yang sedang mengalami kemandegan. Sistem pasar dalam negeri kacau. Terlepasnya penguasaan atas seluruh pelabuhan utama. Ditambah lagi adanya blockade laut oleh pihak Belanda.

Pada akhir sesi webinar, Mansur Hidayat, salah satu peserta webinar yang juga penulis sejarah dari Lumajang, masuk dan memberikan gambaran bahwa narasi penulisan sejarah di Indonesia harus dilakukan secara adil. Mansur mencontohkan, selain Surabaya, ada beberapa wilayah penting di Jawa Timur yang juga menjadi tonggak dalam kesejarahan negeri ini. Dia mencontohkan Malang. Dari sudut pandang Mansur, Malang juga merupakan wilayah yang penting dalam pergolakan sejarah di era revolusi.

Di sebuah kesempatan tanya jawab, Ady Setiawan menegaskan bahwa narasi sejarah yang berkembang di Indonesia harus disikapi secara bijak dan kritis oleh generasi penerus bangsa. Sadar arsip dan literasi akan mengokohkan pemahaman wawasan sejarah yang mewarnai perkembangan bangsa ini. RZ Hakim menambahkan bahwa dengan belajar sejarah bisa menjadi acuan dalam menjalani masa depan. Menurutnya, apa yang terjadi di masa kini, merupakan hasil dari rentetan sejarah di masa sebelumnya. Karena itu, penting untuk tetap belajar dan sadar literasi. Baginya, narasi sejarah bukan hanya melulu peristiwa besar. Belajar tentang kesadaran arsip bisa dimulai dari hal-hal kecil yang ada di sekitar. Karena narasi besar sejarah perjuangan bangsa ini, tersusun atas jahitan narasi-narasi sejarah kecil yang saling ditopang dan dikuatkan dalam perjuangan.

Irma Devita berharap agar webinar tersebut bisa menjadi pemantik semangat dan daya kritis peserta untuk terus belajar dan memahami tentang sejarah Indonesia.

Leave your thought here

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Wishlist 0
Open wishlist page Continue shopping